Sabtu, 31 Januari 2009

mengukir sebuah akhir

takkan pernah kau pahami kekalutan hati yang tersirat.
meski kerap kuperlihatkan dengan halus isyarat.
lantas apa yang kau peduli?
ribuan teman mengajak pergi?
hingga tak kau pikirkan aku yang selalu setia di sisi.
mengapa kini semua terasa begitu berbeda?
aku merasa tak lagi mengenalmu seutuhnya.
dimana kepekaan yang kau punya?
bahkan pada merekapun kau seperti mati rasa.
tidakkah kau ingat indahnya masa lalu?
saat kita masih terlampau lugu.
dimana sekeliling gigih merayu untuk bersatu.
namun kita kukuh bertahan tanpa ragu.
lalu mengapa sekarang sulit?
adakah sejuta tuntutan membuat batinmu terhimpit?
sampai yang utama tak sempat lagi terbersit.
sejujurnya kecewa itu ada.
sedikit terlalu banyak dan menyesakkan jiwa,
menghempaskan asa.
tapi apa yang aku bisa?
menanti segalanya kembali pada semula?
berpura-pura biasa dibalik pahit yang nyata?
tidak, mungkin kini saat ku pergi.
menghilang terbawa kenang yang kau beri.
mungkin ini maaf terakhir yang kupinta,
untuk aku yang tak sabar menunggumu jadi dewasa.

Minggu, 18 Januari 2009

tuntutan perempuan

kata orang cinta yang penting pengertian.
pengertian meskipun kurang perhatian.
kurang perhatian karena banyak kesibukan.
lantas aku kurang mengerti apa?
sebaik mungkin segalanya coba kujaga.
memahami banyaknya waktu yang terlewatkan.
mensyukuri sejuta gemintang yang kau dapatkan.
tapi salahkah jika kini aku meminta?
sekelumit saja pengertian yang kau punya.
bukan cinta buta atau keposesifan semata.
bukan gila perhatian apalagi haus belaian.
aku cuma ingin ditanya.
dipandang tak hanya ketika ada.
aku ingin kamu yang dulu,
meski takkan ada yang setuju.
ingin kau tetap sama,
meski semua berganti rupa.
ingin cinta yang sempurna,
meski raga masih bercela.
maaf, lagi-lagi maaf.
aku resah, mengapa kosakataku melemah.
tapi bersamamu, memang takkan ada yang mudah.
kata yang ringan mengalir, kini perlahan tersingkir.
karena aku jadi lebih banyak sibuk berpikir.
sudahlah, mengapa kini aku jadi terlalu.
selalu dan selalu banyak mau.
bukankah, sudah kubilang takkan lagi membebanimu?

maaf..
(ah, lagi-lagi maaf).

Jumat, 02 Januari 2009

karma?

musim berlalu seiring waktu yang menyertai
tak terasa pedih sunyi itu telah berhasil kulalui
terbukti keadilan Yang Maha Agung memang selalu luar biasa
seakan mempertunjukkan padaku siapa yang paling ambil kuasa
aku percaya Dia.
aku percaya karma.
dimana segala sesuatu berbalas pada tuannya
memperingatkan kita akan seimbangnya semesta
bahwa tetap berlaku hukum bagai bumerang
kau buat sekarang, dibalas nanti di masa mendatang.
itu yang tak terantisipasi olehmu kemarin petang.
oh sungguh sayang, seribu sayang.

tapi segalanya memang tiada yang pasti.
hingga untuk menihilkan lagi aku jadi tidak berani.
namun satu hal yang aku tahu,
hanya satu nama yang kini terlukis di kalbu.
karena, lihat.
itu yang selalu kumengerti saat kupanggil namamu
lihat.
itu yang selalu kau minta padaku sepanjang waktu
lihat.
itu yang kini kau dapatkan dari mereka setelah lama menunggu
dan lihat,
semusim terakhir hanya itu yang tak pernah lepas kulakukan untukmu.

sejauh ini tak kucari pria yang hebat.
meski tetap kulaknat mereka yang bejat.
hanya setelah bertahun kucoba mengenal,
baru kusadar bersamamu cinta ini tak akan gagal.

namun setelah apa yang kau lalui dengan berat,
kuharap segalanya tak lagi mudah untuk kembali terlewat.
karena hanya padamu sesungguhnya hatiku selalu tertambat.
meski kutahu,
mungkin ini sudah terlalu terlambat.

Sabtu, 01 November 2008

tak jemu melaju

apalagi yang aku cari?

benarkah hanya sekedar penghibur hati?

satu dan dua datang silih berganti

namun tak jua titik terang datang menghampiri



mungkinkah kali ketiga ini cinta?
adakah kamu yang takdir bawa?


kuharap ya karena akupun semakin lelah

lelah menanti dalam gelisah



namun kini semua terasa begitu tepat

seakan telah lupa aku pada hati yang tersayat

kamu ada, saat kurasa semua lelaki itu sama

ada, untuk buktikan bahwa cinta tak sekedar angan semata

tapi sirna saat kuhabiskan hari bersamanya

sirna, untuk kemudian datang menjelma

dan yakinkan bahwa hanya hadirmulah yang setia



aku tahu kamu telah sungguh berupaya

hanya hatiku yang belum mampu lekas percaya

ditambah lagi dengan keraguan yang kerap kali datang mendera

sehingga tak terjembatani dua hati yang sesungguhnya serupa


kamu tahu, bukannya aku tak ingin kita bersatu bersenyawa

hanya saja begitu sedikit waktu untuk mengenalmu kurasa

jadi, bisakah kuminta itu segera?

agar teryakinkan hati sepenuh jiwa?


aku sadar keangkuhan hati ini telah begitu ambil kuasa

meski tersirat asamu yang tegar dan menggelora

namun proteksi hati ini tetap membatu tak bersela


kini maafkan aku yang tak lekas dapat temukan

sebuah arti dari dalamnya sebuah jawaban

jika kamu yang terbaik sungguh aku masih percaya

akan kau tunggu aku selama dunia belum berubah nyata

dan setia menjadi pelita bagi hatiku yang membuta


hingga kau jaga langkah sepiku setajam elang

nan tak jemu untuk selalu bersinar terang

terang yang tak hanya sekedar remang,

tapi terang yang pendarnya benderang.

bagai bintang dibalik segala rintang :)

Rabu, 10 September 2008

a gift :)

"dia bukakan, pintu hatiku
yang lama tak bisa percayakan cinta
hingga dia disini, memberi
cintaku harapan.."

DIA by Maliq & d'Essentials


sepenggal bait yang akan selalu terlantunkan hanya untuk sejumlah untuk.

untuk sebuah harapan nan damai.
untuk setiap canda riang yang berderai.
untuk aliran perhatian yang menganak sungai.
dan untuk semua kasih sayang yang lembut membelai.

aku sedang tak ingin membuat syair roman yang baku.
yang aku ingin hanya kamu tahu aku setuju.
kuharap ini akhir tidur lelapku.
untuk terjaga dan memulai hidup yang baru.
dengan kamu?
kurasa, tentu ;)

Kamis, 14 Agustus 2008

lelah. tambah lelah

sungguh aku tak mau dengar lagi.
mengapa selalu datang kabar tak berhenti?
tidakkah lelah kau membuat ragam sensasi?
aku hanya ingin tentram.
nikmati embun dalam temaram.
baru sedetik aku resapi kesejukannya,
ketika panah itu kembali keluar dari busurnya.
tegakah kamu melihatku (kembali) jatuh?
padahal telah kujalani dengan sedemikian patuh.
bisakah kuminta sedikit kebahagiaan yang kau rengkuh?
sementara disini aku berjuang dengan berpeluh.
aku yakin kamu berhati.
setidaknya hanya untuk kali ini.
aku tahu tak pernah ada maksudmu menipu.
hanya 'sedikit' silatan lidah penenang kalbu.
namun sekarang aku sudah muak.
hiburanmu selalu dapat kutebak.
maka kini berikan saja satu kejujuran.
utuh, tanpa banyak tambahan.
tak usah lagi kau mainkan drama berperan.
karena aku hanya ingin sebuah perpisahan.
selamanya, dan takkan lagi terpatahkan.

Rabu, 13 Agustus 2008

terbius kampus

kutatap lembayung yang membias di langit Sang Pencipta.
bau hujan sekejap menyeruak dalam indra.
sejenak aku lupakan himpitan tugas dari kakak mahasiswa.
disini telah aku temukan realita.
dimana hidup tak hanya biru namun juga abu.
biru warna kisah SMA kelabu.
sedangkan abu, sama dengan hidup baru.
aku sadar akan itu.
dan semoga esok, segalanya tak membeku.
takkan jadi euforia yang menipu.
sebaliknya, akan kususuri jalan seberapapun berliku.
begitu janjiku. tanpa ragu, tentu.